RARAS
Raras
Dia
memejamkan mata jauh kedalam lumbung ingatan masa kecilnya, dia yang ketika
itu terus memperhatikan mainan yang
berserakan disekitarnya. Sudah berserakan, dia pun tak tahu pula harus apa
dengan mainan sebanyak itu yang selalu saja bertambah setiap minggu karena ulah
ayah yang membawakannya untuknya dan
adik kecilnya sepulang dari tempat kerjanya. Mainanku sudah terlalu banyak ayah, dan aku sangat senang akan hal itu.
Paras
ceria tak pernah kusut mengikutiku kemanapun aku pergi, pernah suatu saat aku
berpergian bersama ibu kepasar tradisional. Tukang becak, seorang bapak dan
sekelompok becak yang kami lewati memang kebetulan sudah jadi langganan
tumpangan ibuku hanya sekedar untuk tumpangan pulang kerumah terus saja mereka
menggodaku.
“Wah,
adik kecil berpita merah jambu itu sungguh indah parasnya! Bu, kau jodohkan
saja dia denganku?” salut salah seorang dari mereka.
“Jangan
dong om, dia kan masih kecil!” ibuku dengan sewot
menjawab.
Aku
ingat sekali dengan kejadian kecil di pasar saat itu, belum saja belanja ibu
sudah digoda abang tukang becak karena mengajak putri kecilnya yang parasnya
bukan main. Bak bidadari dari surga yang rambutnya bagai aliran sungai bening
dengan diam airnya selalu mengalir dengan tenang. Cahaya parasnya, tak tahu, bisa
darimana ia berasal, lentik bulu mata yang seakan akan mendayu-dayu seperti
nyanyian burung gelatik di pagi buta dengan antiknya. Raras, itulah namanya si
putri paras bidadari.
Raras
kini telah tumbuh dengan dewasa, merasa akan tua pun dia tak sanggup. Katanya,
bu aku ingin ibu hidup seribu tahun lamanya agar aku bisa membahagiakanmu dan
aku tak pernah tua lalu dipandang ibunya sambil tersenyum ibunya hanya
membalasnya dengan senyuman membalas perkataan putri remajanya saat itu. Kata
orang, wanita aduhai adalah wanita diumur emas, wanita yang berumur dua puluh
adalah wanita yang diagungkan kemolekan tubuhnya. Begitupun raras, ditempat
dimana dia kuliah, dia dihantui banyak kakak tingkat yang berbalas tegur sapa
dengan mati-matian berusaha mendapatkan secuil dari hati raras. Tapi, kali ini
berbeda, raras bukanlah wanita yang biasa digoda hatinya.
Hari
itu, raras memilih untuk menjadi seorang guru di sebuah desa binaan didekat
kampusnya. Raras menjadi seorang guru tari tradisional jawa, dia memang sudah lama
mengikuti kegiatan hal tersebut dari masa kecilnya. Orang tuanya pun
mendukungnya untuk mengisi hari-harinya. Dibalik kegiatannya yang menumpuk
raras menyimpan sebuah cerita kecil yang tidak bisa dibagikan kepada orang lain
kecuali tentu saja kedua orang tuanya dan adik kecil yang bernama maria.
Maria
masih duduk di bangku SMA saat raras sudah menginjak pendidikan di tahun kedua
dibangku kuliah. Maria yang sering mengantarkan kakaknya rutin ke dokter setiap
sabtu malam. Sebenarnya, raras sukar ditemui malam minggu dirumah oleh pemburu
cintanya karena hal tersebut. Tetapi, ibu raras selalu berdalih dan meminta
agar semua lelaki yang selalu berbeda singgah dirumahnya tersebut untuk
menemuinya esok pagi saja.
Pernah
ada seorang lelaki yang bernama Leo, Leo merupakan teman raras dari SMA, raras
sangat jatuh cinta pada Leo namun hanya dipendam saja. Raras takut jika
mengungkapkan rasanya terlebih dahulu kepada Leo. Leo sudah menganggap raras
sebagai teman baiknya. Maka dari itu, saat diberikan boneka hello kitty
kesukaan raras, raras hanya bisa memeluk dan berterimakasih saja kepada Leo.
Leo kini bersekolah di akademi penerbangan. Berbeda kota bukan berarti mereka
benar-benar hilang kesempatan untuk berkomunikasi. Toh, zaman sudah berbeda,
telefon genggam sudah canggih. Agendanya setiap jumat siang, selepas makan
siang raras dan leo akan saling memberikan kabar dan cerita selama seminggu
melalui videocall.
Raras
begitu senang bisa terus berkomunikasi dengan teman baiknya, tapi sayangnya
ketika raras tau leo sudah tak sendiri kini dia pergi menjauh. Raras mempunyai
paras yang menawan, bukan hal yang sulit untuk mendapatkan lelaki yang lebih
baik dari leo. Ditahun keduanya ini, raras semakin memikirkan leo. Maria yang
mengetahui cerita sedih kakaknya langsung saja mengumbar sana sini mencarikan
kakaknya pasangan dengan cara berkenalan dengan kakak laki-laki dari teman
Maria. Seperti biasa, raras tak berselera walaupun hanya sekedar berbicara
sedikit dan saling membalas sapa ditempat ramai.
Raras
tidak mengenal leo yang dulu lagi, kabar terakhir dari leo dia sering mabuk dan
menggilai wanitanya tetapi dengan cara yang kurang baik. Raras tidak mengerti
bagaimana perubahan sikap leo terhadap raras. Dari sebulan yang lalu dia
menghilang, raras hanya bisa berdiam diri. Bagaimana bisa sahabat yang dulu ia
sukai merubah sifatnya yang asli dan tak mempedulikannya lagi. Satu, dua, tiga,
empat bulan kemudian pun raras benar-benar sudah tidak bisa menahan penyakit
yang bersarang ditubuhnya.
Malam
itu, raras kembali tak sadarkan diri. Mamanya sudah mengikhlaskannya, taka da
lagi rasa sedih yang harus dipendam pikirnya. Memang sudah saatnya raras untuk
tidak menopang kesakitannya. Dia akan membiarkan raras dengan rasa penuh suka
cita. Dua hari dia koma, Mari yang memasuki kelas tiga sudah bisa berfikir jika
dia salah ketika tidak memberitahukan kepada Leo. Leo bersitatap dengan
pasangan kelamnya. Leo berlari, terus berlari memilih penerbangan paling awal.
Diufuk
pagi dengan mega mendung yang berhias kicau burung. Dedaunan jatuh yang katanya
tak pernah membenci angin karena sudah menjauhkannya dengan sang pohon.
Bunga-bunga lily yang dengan pasrahnya dihinggapi oleh lebah tak kunjung pergi
dihisapnya madu sampai habis untuk bekal dipelupuk rumahnya. Hujan gerimis
tipis kini menghampiri kota ini. Sepertinya mereka sedih, sedih yang sederhana
dengan menyesali, ketika cinta tak terkatakan dengan indahnya.

Comments