PAGI BUTA
Hearts on fire
I don’t know how.. and I don’t know why
...
Sajak pagi ini ditemani tiga atap rumah penginapan remaja
putri disudut kota hujan yang sedang ku tinggali ini, burung-burung baru saja
bernyanyi disambut kupu-kupu yang sibuk berlari memilih bunga. Matahari yang
pagi ini belum menampakkan rupanya masih dibayangi oleh awan dan nyanyian yang
sedang ku dengarkan ini. Terlihat bangunan tinggi disebelah utara yang selesai
dibangun, pikirku, ah bisa saja nanti aku bermain Kodak sebentar untuk
mengabadikan momen dikota ini.
Dua antenna televisi yang menemaniku tak berbicara apa-apa
ketika aku sedang ingin berdiam seperti ini, aku berharap mereka yang berbicara
dan aku , ya aku, aku yang harusnya bergantian untuk mendengarkan. Tetapi
mereka berdua tak punya daya untuk berbicara di dunia nyata ini.
Sudahlah, sepertinya benar kata orang jika kamu mendengarkan
music yang bergenre mellow sedikit
itu bisa mengobati rasa sakit hatimu meskipun tidak seluruhnya. The passenger, passenger.. apapun itu
aku mulai menyukainya. Nah, ada lagi si anak bungsu dari keluarga laron sedang
menggodaku kali ini, dia bermain didekat genteng rumah yang tidak lagi dipakai.
Bukan tidak dipakai tepatnya menyisa untuk ukuran rumah yang lumayan besar ini.
Sedari subuh ku terbangun hanya untuk memperbaiki jam
kerjaku, katanya pagi adalah dimana malaikat akan menyapamu, matahari yang tak
pernah lelah untuk memberikan senyum cerianya, apalah yang kamu lakukan
melainkan hanya bisa bersyukur, ketika aku merasa aku bukan apa-apa didunia ini
dan selalu bersedih dan membandingkan kehidupanku dengan yang lain yang aku
ingat hanya kalau didunia ini ada seseorang yang ingin bertukar tempat hidupnya
denganku. Aku harus bersyukur sesyukur –syukurnya pada Allah ku, karena aku
masih diberi makanan yang selalu terasa enak dilidahku, Dimana laptop ini yang
membantuku pun masih bisa menyala hingga pagi ini tanpa dia berkata dia lelah
untukku, laptopku ini jelas bukan orang,
seseorang yang akan berkata dia lelah selalu ada untukku. Aku yang masih
punya orang-orang yang harus aku sayangi.
Aku tidak habis pikir, bagaimana orang tidak bersyukur
dengan hidupnya dan ketika mereka terpuruk mereka memilih untuk bunuh diri
misalnya, hmm . Berbicara mengenai bunuh diri ini sebenarnya aku terpikirkan
disetiap batas benak manusia, merasa jika itu akan dibutuhkan sewaktu-waktu.
Aku dulu sewaktu kecil hingga berpikir untuk mati muda saja supaya tak banyak
dosanya. Berguyon saja, mati itu ada
yang atur, ada saatnya, ketika orang sakit yang berobat dirumah sakit menghabiskan
uangnya untuk kesembuhan, kau malah berpikir untuk mati saja, jika nyawa bisa
dijual, jual saja nyawamu.
Matahari sepertinya ingin bersombong diri , mukaku yang
bersembunyi dibalik medan genteng rumah sebelah dibanjiri cahayanya. Mungkin,
ia ingin berkata bahwa saatnya aku harus bangun dengan kedewasaan penuh, ketika
aku harus menyicipi susahnya hidup berujian sedini mungkin aku harus
menghadapinya dengan tenang. Seperti matahari, diam tapi perlahan, perlahan
merobek diam dan kesunyian malam tadi. Dia membisikku, katanya orang bukanlah
segalanya, tidak ada yang nyata didunia yang fana ini, Allah hanya ingin tahu
bagaimana kemampuan kamu mengahadapi setiap kejadian yang diberikan
untukmu.

Comments