IBUNYA IBU
Tertanggal tiga di bulan satu, masih banyak sekali tugas yang belum aku selesaikan dengan deadline waktu kurang lebih enam puluh dua jam yang akan datang. Aku mulai lelah dengan waktu-waktu seperti ini, sedikitlah tak produktifnya.
Terus saja rasa malas ini yang aku ikuti sampai mana aku dan dia akan bertahan? tetapi, jika kau memilih jalan itu kau akan tersesat nak. begitu kira kira yang akan nenek katakan padaku sejak dulu.
Berbicara tentang nenek, aku sangat rindu dengannya. Biasa kami selalu mengaji dipagi berembun di pinggir danau diatas tepian balkon rumah sederhana milik nenek dan datuk. masih dingin subuh itu, nenek yang sedari dulu fasih dengan bacaan huruf Arabnya sesekali membenarkan kalimat demi ayat yang telah kubaca. Satu, dua, tiga halaman habis kulalap dalam waktu tiga puluh menit saja dan begitupun hari hari kami berlanjut.
Tak heran, jika libur telah tiba aku dan keluarga selalu menyempatkan untuk mengunjungi rumah nenek sekedar menanyakan kabar ataupun menginap berhari-hari dirumah tuanya.Selain itu, aku diberi kesempatan untuk tinggal lebih lama dengan nenek. Banyak hal yang menyebabkan aku harus mau untuk pindah ke sekolah jauh dari orang tua. Hey, perkara uang ini bukan soal itu kawan. Melainkan memang kemauanku menjadi faktor terbesar untuk bersekolah dikota asri nan sejuk ini.
Banyak sekali cerita yang menakjubkan yang telah kulewati disini, sejam sehari seminggu sebulan bahkan setahun dan seabad aku takkan bisa melewatkan semua cerita itu didalam ingatanku.
Memori dimasa itu, Nenek seorang ibu tangguh yang memiliki tujuh orang anak diselipkan salah satunya adalah ibuku, ibuku bernomor empat dalam tujuh orang tersebut. Semua saudara ibu mengalami kejadian hidupnya masing masing. Dari ketetapan sebagai anak, aku banyak menyanjung ibuku daripada yang lain dari semua nomor anak nenek.
Ibuku mirip sekali sifat dan gelagat seperti nenek, ibu sangat berhati hati dan teliti dalam bekerja meski terkadang dicap agak lambat oleh saudaranya tetapi lihatlah hasil kerja ibuku yang paling rapi diantara mereka sekalian. Inilah yang terkadang membesit benakku, lebih baik pelan pelan asal baik hasil pencapaiannya daripada sudah cepat cepat tetapi tidak teliti dan hasil kerja pun tak baik. Entah pepatah atau bukan, yang jelas aku pernah dengar ada kalimat begini "alon alon asal kelakon". Yah, begitulah kira kira.
Memang aku sangat bangga menjadi salah satu bagian dari negara ini, memounyai banyak adat, budaya dan etnis. Nenekku berdarah asli BatuSangkar,Sumatera Barat.
Yah, negeri asri nan tentram yang memang menjadikan aku berdarah minang ini bernama Sumatera Barat. Nenek seorang Bundo Kanduang dalam suku kami, kalau tidak salah suku kami bernama "Piliang". Aku diceritakan banyak hal tentang suku suku yang ada di ranah minang. Seru sekali, jika ada pagelaran adat yang melibatkan keluarga kami. Semua penduduk bersuku satu dengan kami akan diundang. Terbayangkan sudah jika keramaian yang akan terjadi bisa melebihi konser musik yang digelar dikota besar.
Saya bangga akan hal hal itu, bukan berarti saya orang desa menjadi penduduk kota baru. Saya juga dibesarkan bukan didesa, ayah dengan daerah asal yang tidak sama dengan ibu yang membawakan aku keselarasan antara budaya desa dan kota. Bagaimana harus bertingkah laku, menyandang kata sopan itu berat kawan. Apalagi ketika kamu bertemu dengan para teman-teman yang tidak terdidik seperti didikan ayahku. Bahasa tidak lagi diperhatikan sehingga nilai nilai yang harus dijaga sekarang kurang diperhatikan.
Kembali dengan bahasan nenek, sekarang nenek sudah berusia lebih dari kepala tujuh lima kepala unggul dari kepala yang kupunya sekarang. Ini berarti nenek sudah tak lagi muda, semakin menua semakin rapuh sering kuhubungi via alat canggih dari Alexander Graham Bell tetapi aku harus sering kali berteriak sesekali memastikan pembicaraan. lagi lagi itu semua karena faktor kepala tadi, nenek suka tidak terlalu mendengar apa yang aku bicarakan.
Harapanku ditahun yang masih segar ini, semoga aku selalu berkesemoatan mengunjunginya kembali seperti dulu, kini aku jauh ribuan kilometer darinya. Semua harapan dan do'anya selalu menyertai hidupku ini. Love you my lovely grandma :")

Comments