WAKATOBI




Perjalanan Wakatobi.


Hari pertama untuk perjalanan mencari kain tenun di Wakatobi dimulai dari mencari informasi dari berbagai pihak seperti warga lokal dan seorang teman yang sempat bekeja lama di pulau Wanci. Wakatobi sendiri seperti yang kita ketahui memiliki 4 pulau besar utama yang bernama Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Perjalanan kali ini tim WKTB menyusuri dua pulau yaitu Wanci dan Kaledupa. Hari pertama karena masih ada pelatihan warga lokal di Swisscontact kita mencari lokasi terlebih dahulu, jika kain tenun khas Wakatobi yang dicari harus ke pulau mana yang paling tepat untuk dikunjungi.

Kaledupa.
Di Kaledupa ini,  tim kita menemui kak Nusi. Ka Nusi ini adalah seorang aktivis yang berasal dari Kaledupa. Ka Nusi juga merupakan salah satu pengurus tetap FORKANI (Forum Kahedupa Toudani). Nah, disini perjalanan kita dimulai.

Organisasi masyarakat FORKANI sendiri berada di wilayah pulau Kaledupa. Kaledupa mempunyai pusat sentra produksi kain tenun khas Wakatobi yang berada di daerah Pajam. Melalui FORKANI, kita bisa mendapat banyak sekali informasi kain tenun khas Wakatobi. Tenunan dari Wakatobi sendiri mempunyai derajat yang berbeda ketika dilihat dari segi persepsi motifnya.




Motif:
·         Leja
·         Kasopa
·         Koto-koto, yang terdiri dari : Makuru, Mohute, dan Meha.
·         Gorau Nihole.
·         Jali-Jalima
·         Pa’a
·         Kambanu Sampalu
·         Baralu.


Tenun sebagai warisan budaya dilakukan dengan cara turun temurun. Motifnya pun terbagi menjadi dua ada yaitu khusus wanita dan pria. Motif yang berbeda juga bisa menandakan derajat atau kedudukan si pengguna kain tenun tersebut, mulai dari rakyat biasa hingga bergelar bangsawan. Sampai ada adat yang melakukann penyobekan kain dengan menggunakan pisau tajam jika ada seseorang salah menggunakan motif tenun dan tidak sesuai dengan derajatnya sebagai tanda ketidakhormatan terhadap budaya. Kemudian, orang tersebut tidak boleh tersinggung jika kainnya disobek seketika dengan orang adat lainnya. Budaya tersebut masih bertahan hingga kini karena kain tenun juga dianggap sebagai simbol kehormatan didaerah Wakatobi.

Jika kita sudah bertemu dengan ka Nusi di Wanci, di markas FORKANI kita juga bertemu dengan orang hebat lainnya yaitu kakak pengurus FORKANI dan orang-orang yang aktif untuk memajukan tingkat kesejahteraan hidup masyarakat Kaledupa. Ka Buke, Ka Edi, Ka Jambo, dan lain-lain. Mereka semua yang memberikan informasi mengenai Kaledupa dan cerita menarik lainnya seperti pantai Sombano dan danaunya. Kemudian setelahnya banyak berbincang hari kedua sampai di Kaledupa kita pergi ke Pajam dengan teman dari Balai Perhutani Kaledupa. Opa Fasa dan Bang Ilun yang paling banyak peran saat di Perhutani. Karena semua keperluan untuk ke Pajam Opa Fasa yang fasilitaskan dan kita pergi ke Pajam dari siang hingga sore hari.

Di Pajam tidak hanya ada satu rumah produksi yang memproduksi kain tenun tradisional Wakatobi. Pajam merupakan salah satu desa yang didedikasikan untuk sentra tenun di Kaledupa, walaupun di Kaledupa tidak hanya Pajam saja yang produksi tapi yang paling lengkap mungkin di Pajam. Tinggal memutari desa dan menemukan satu rumah atau sekelompok yang produksi tenun kita bisa langsung komunikasi untuk tanya jawab mengenai kain tenun yang kita cari.


Bagi saya pribadi, sangat disayangkan jika produk lokal yang sangat mewah filosofinya itu hanya untuk konsumsi lokal, harus di panjat sosialkan dan disebarluaskan ke berbagai penjuru dunia. Mungkin kita bukan satu-satunya yang memikirkan hal tersebut karena tidak dipungkiri banyak NGO yang sudah masuk ke wilayah Wakatobi salahsatunya si W. W ini usut punya usut pernah melakukan pembinaan satu kali dan dibiarkan untuk kelompok binaannya yang mana warga lokal berpkir jika mereka tidak melakukan perubahan yang berkelanjutan.

Terlepas dari masalah tersebut, lebih baik kita ambil langkah positif yang mana kita bisa ambil pekerjaan yang berkelanjutan yaitu produksi yang ada kita lanjutkan distribusinya dengan cara membuat produk yang diselingi tenun seperti karet/ tali jam tangan, aksesoris premium dari tenun dan lain sebagainya. Harga tenun dimulai dari kisaran 350k hingga 1000k lebih dan kelompok penenun di Kaledupa sudah memiliki bermacam buah tangan mulai gelang bambu, gelang simpul warna-warni, gantungan kunci dari kain perca tenun, tenun premium dengan benang warna alami dari kayu, buah delima, hingga pengunci yang terbuat dari cairan rendaman besi yang menghasilkan warna cukup menakjubkan. Selain itu mereka juga punya shawl dan tas tenun.



Kaledupa tidak cukup sehari, dua hari untuk mengetahui banyak informasinya. Kaledupa juga mempunya banyak suku Bajo yang masih benar-benar mempertahankan adat untuk tinggal diatas laut dan menghindari daratan. Beberapa di antaranya bisa kita temua didekat pelabuhan yang berada di Kaledupa dan lainnya bisa kita lihat dari ketinggian desa Pajam. Saya akui untuk keramahan masyarakat Indonesia Timur tidak tertandingi dengan prinsip jika kita baik-baik datang maka mereka akan jauh lebih baik untuk menjamu kita sebagai tamu. Terutama di Kaledupa, mereka sangat ingin tahu jika ada “orang asing” yang tiba-tiba datang ke Kaledupa dan selalu ditanyakan perihal apa yang membuat kita sampai hingga Kaledupa.


Hari terakhir di Kaledupa tidak begitu baik karena sedih sekali sudah mengenal opa Fasa dan KLHK tim , FORKANI gengs, adik-adik KPA dan harus meninggalkan Kaledupa. Hari keempat kita berkunjung ke Benteng Liya Togo setelah kembali ke Wanci. Wanci mempunyai sejarah yang luar biasa untuk benteng pertahanan pada zaman penjajahan Indonesia. Benteng Liya Togo sendiri adalah salah satu wilayah yang besar untuk dikunjungi. Mulai dari Bentengnya sendiri, Danau Ewuwu, Pantai Benteng Liya Togo maupun rumah panggung khas daerah Benteng liya Togo yang hingga kini masih digunakan untuk keperluan pertemuan adat. Informasi yang didapatkan dari warga lokal mulai dari penjaga masjid, ibu warung penyedia minuman segar dan lainnya.





Danau Ewuwu

Danau ini salah satu danau yang yang digunakan masyarakat lokal untuk keperluan mandi dan lain sebagainya. Terbagi dari beberapa tempat mencuci, tempat mandi pria, dan dibagian lain ada tempat mandi wanita. Kemudian, perjalanan ke danau Ewuwu bisa ditempuh menggunakan jalan kaki dari daerah Benteng Liya Togo sekitar 10 hingga 15 menit kalau tidak menyasar (ehem). Danau Ewuwu sendiri merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar benteng dan masih dimanfaatkan hingga kini terbukti dengan perjalanan kita bisa bertemu warga lokal yang sedang menggunakan tempat mandi pria dan lokasinya terbilang didalam hutan. Jika kamu ingin meditasi, mungkin danau Ewuwu adalah salah satu spot terbaik di daerah Benteng untuk dijadikan tempat pilihan meditasi. Mungkin jika di gambar atas tidak terlalu besar, percayalah itu danau besar sekali dan sekarang hanya tertumpuk rumput liar yang memang menutupi sebagian wilayah danau.



Benteng Liya Togo.
Ternyata tidak hanya di Kaledupa saja yang mempunyai rumah produksi tenun, di Benteng Liya juga ada rumah binaan yang masih mempertahankan produksi tenun tradisionalnya. Di Liya sendiri tidak hanya orang tua yang menenun tetapi biasanya kebanyakan yang melakuka adalah ibu dan anak perempuannya. Mungkin itulah yang disebut ikatan batin antara ibu dan anak perempuan sangat kuat seperti yang film Lady Bird tayangkan. Oke skip.
Tidak hanya itu, pulau Kapota yang bersebelahan dengan Kaledupa juga masih ada dan mempunyai rumah produksi sendiri untuk tenun tradisional. Perjalanan kita berakhir di Benteng Liya Togo dan mungkin akan berlanjut karena belum ke Pulau Tomia dan Binongko.
Sekian laporan perjalanannya ya :D



Comments

Popular Posts